Purna Perawat Beralih Profesi Jadi Teknisi

Kalau bicara soal semangat, sudah sepatutnya kita meniru semangat dari salah satu peserta kursus service HP bernama Misbah. Pria kelahiran tahun 1963 itu merupakan peserta kursus service HP angkatan September 2021. Meskipun usianya bisa dibilang tidak muda lagi seperti peserta kursus service HP lainnya, hal itu tidak menyurutkan semangat beliau mengikuti kelas teknisi HP.

Dalam perjalanannya, setelah lulus dari sekolah keperawatan Pak Misbah menjalani pekerjaan sebagai perawat di salah satu puskesmas di daerahnya, Lamongan, Jawa Timur. Pak Misbah mengabdikan dirinya sebagai perawat hingga ia purna tugas. 

Hari-hari Pak Misbah sebagai pensiunan perawat ia habiskan dengan berkebun. Selain untuk mengisi waktu luang, cara itu digunakan untuk menambah penghasilan yang diharapkan dapat meningkatkan finansial keluarganya. Begitu pun dengan rencananya untuk mengikuti kursus service HP. Ia juga berharap rencananya mengikuti kursus service HP dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah meskipun ia tidak lagi terikat dengan pekerjaan tertentu. 

Berbekal kecintaannya dengan dunia elektronika setidaknya itu salah satu alasan yang membuat Pak Misbah ingin melebarkan sayap menjadi teknisi HP. Namun, karena keterbatasan waktu ia  harus menunda kesempatan belajar menjadi teknisi HP dan mendahulukan perawat sebagai pekerjaan utamanya.

Alasan lain mengapa Pak Misbah ingin menjadi teknisi HP karena waktu yang dirasa lebih fleksibel dibanding dengan pekerjaan lain karena tidak adanya patokan waktu khusus. “Sesuka hati mau mengerjakan jam 12 malam sampai jam 3 atau pagi hari nanti jam 10. Nanti kita lelah kita istirahat itu tergantung kita jadi enaknya di situ. Jadi tidak ada patokan waktu yang kita tepati kalau kita kerja sendirian lain dengan kalau kita itu ikut orang lain beda lagi. Jadi saya tertariknya dari situ dari segi waktu itu ga ada keterikatan sama user lah.”

Dukungan keluarga terus mengalir dari istri dan keempat anaknya terhadap kegiatan yang dilakukan oleh Pak Misbah. Keluarga Pak Misbah menyambut baik recananya untuk mengikuti kursus service HP. 

Menurut cerita Pak Misbah, perkenalannya dengan Lasercom diawali dengan pencarian di internet. “Dulu saya sering browsing yaitu belajar servis laptop atau pun handphone di internet ternyata browsing berkali-kali emang Lasercom yang nomor satu tampilan di google itu. Setelah itu kita buka webnya ternyata tertarik di Lasercom,” tutur Pak Misbah.

Perjalanan baru Pak Misbah dimulai di tempat kursus service HP. Ia bersama beberapa peserta kursus service HP dari penjuru Indonesia lainnya mengikuti kelas kursus service HP sesuai dengan paket kursus service yang mereka ambil. Sementara Pak Misbah mengambil paket kursus service android dan iPhone di bulan pertama dan paket kursus service laptop di bulan kedua.

“Bulan yang pertama saya kan kursus android sama iphone terus lanjut dengan kursus laptop juga karena rumahnya jauh jadi ga mungkin itu bolak balik lah jadi sekali jalan. Jadi menghemat waktu, biaya, dan tenaga juga,” jelas Pak Misbah dengan pembawaannya yang tenang.

Usia Jadi Faktor Utama Adanya Kendala

Tidak dapat dipungkiri ada beberapa kendala yang Pak Misbah hadapi selama kelas kursus service berlangsung. Baginya faktor usia memang menjadi kendala utama saat mengikuti kelas kursus service HP terlebih jika praktik menangani kasus kerusakan. Penglihatan Pak Misbah yang sudah termakan usia membuatnya harus bekerja ekstra dalam menangani kerusakan  HP.

Hal inilah yang kemudian menjadi alasan mengapa beliau lebih tertarik pada kasus kerusakan laptop dibanding HP. “Berhubung saya tergantung dengan usia, saya senang di laptop soalnya barangnya kan gede-gede banget walaupun ga pakai mikroskop itu masih bisa melihat tapi kaya iPhone itu memang komponennya kecil-kecil dan harus pakai mikroskop,” ungkap Pak Misbah.

Selain itu faktor usia juga membuat Pak Misbah tak banyak mencerna materi yang diberikan selama kursus service HP. Menurutnya, banyaknya materi service iPhone dengan waktu terbatas membuat beliau sedikit kewalahan dalam mengikuti kursus service HP. 

“Ya, kalau materi masih 60 persen soalnya agak sulit untuk materi iPhonenya. Ya, memang materinya banyak dan waktunya terbatas kan kalau iphone istilahnya barangnya kecil,” jelas Pak Misbah.

Di samping itu, Pak Misbah juga harus beradaptasi dengan peserta kursus service HP lain yang usianya terpaut jauh darinya. Perbedaan usia di antara mereka menurut Pak Misbah menjadi kendala saat berkomunikasi sehingga proses penerimaan pesan membutuhkan waktu cukup lama.

Perbedaan topik pembicaraan, gaya komunikasi, pengalaman, suku dan budaya dari peserta kursus  service HP bagi Pak Misbah merupakan pelajaran. Perbedaan yang dimiliki oleh peserta kursus service HP nantinya dapat Pak Misbah terapkan ketika menangani konsumen. “Itu keuntungannya nanti menghadapi pelanggan atau user ya begitulah kita terapkan biar nanti konsumen atau user itu biar ga kecewa.”

Kendala yang ada tidak mematahkan semangat Pak Misbah. Semangatnya menggelora tidak kalah dengan semangat peserta kursus service HP lain yang lebih muda. Kecintaannya terhadap dunia elektronika menjadi bara semangat yang tidak pernah padam di dalam dadanya. 

Ingin Dirikan Jasa Service HP Sendiri

Ketika ditanya apa langkah Pak Misbah setelah lulus dari tempat kursus service HP, beliau ingin mendirikan jasa service HP di rumahnya. Ia mempunyai strategi jika usahanya di rumah sudah ramai dan dikenal banyak orang, akan dipindahkan ke lokasi yang lebih strategis. 

“Ya, memang rencana semula ya buka servisan handphone sama laptop itu. Untuk tempat lihat dulu lah nanti sebenarnya untuk sementara di rumah dulu lah untuk sementara. Nanti kalau hasilnya ya gimana nanti menggembirakan atau gimana nanti cari lokasi. Sementara saat ini di rumah aja untuk menekan  biaya finansial biar ga sewa tempat atau nyari orang teknisi itu kan biasanya agak mahal,” jelas Pak Misbah.

Bagi Pak Misbah tahap awal memulai usaha ia akan berfokus pada kualitas dan kepuasan konsumen. “Bisa diandalkan dan bisa dipercaya tidak menutup kemungkinan kita nanti insyaallah pasti dikenal, tetap dicari walaupun di tempat sepi pun nanti akhirnya dicari orang,” imbuhnya.

 

 

Penulis: Luluh Pramudaningtyas